Sunday, May 16, 2010

Berpuisi Dengan Hati

Sekiranya engkau mengalami
Apa yang mereka alami
Maka kau pun kan berpuisi

Sekiranya engkau merasakan
Apa yang mereka rasakan
Maka kau pun kan beruntai kata

Pengalaman nyata atau khayal
Usahlah menjadi perdebatan
Karena masing-masing ditanggapi
Oleh hati dan pikiran

Puisi picisan itu tidak ada
Karena setiap kalimat kau maknai benar
Tersusun seperti Dia merangkai kisahmu
Dalam antologi syair kehidupan

Bukanlah menjadi pujangga
Yang mengantarkan kita pada kearifan
Tapi menulis kalimatmu dengan jiwa
Yang membawa hangatmu dalam keabadian

"Dan ajarkan sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani (Umar Bin Khattab)"

-16 Mei 2007-

Tentang Cinta

Dialah Cinta
Mahar tuk wujudkan bahagia
Diberikan bersama mawar-mawar asa
Yang kau tanam dan mekar di taman jiwa

Tabiat cinta
Simfoni yang senada dengan fitrah manusia
Asal ia terjaga sempurna
Sesempurna pengharapanmu pada surga

Dialah Cinta
Yang mengubahmu menjadi pujangga
Merangkai hikmah atas kehadirannya di dunia
Saat pekat kaulah taburan cahaya
Kala dahaga kau oase di hamparan sahara

Sejatinya cinta
Menemanimu menyusuri rimba dunia
Sarat bahaya, sarat nestapa
Namun tak henti cinta tersenyum setia

Begitulah Cinta
Atas dua jiwa

-31 Januari 2007-

Road To S.Si, Apt.

Tulisan ini dibuat untuk adik-adik dan kawan-kawan yang akan mengikuti jejak perjuangan menuju S.Si Apt, juga untuk sahabat-sahabat yang ingin mengetahui sekelumit aktivitas ujian apoteker di ITB..

----------------------------------

TAHAP 1 : UJIAN PENELUSURAN PUSTAKA

Hari 1

Akhirnya hari yang (tidak) dinanti itu tiba :). “Bismillah..Ya Alloh bimbing tangan kanan hamba untuk mengambil soal yang mampu hamba kerjakan”. Alhamdulillah, akhirnya keluarlah soal SUSPENSI KETOKONAZOL. Yup, my lucky morning. Dimulai dengan membuka FI IV, yes ada, FI III, yah..gak ada, GG 10 th, yes ada, AHFS 2005, ya Alloh indeksnya ilang :(, alhamdulillah ada neng citra di depan bangku ujian (Pesan 1 : PERHATIKAN INDEKS BUKU SEBELUM ANDA BERTARUNG), jangan seperti saya, pas Hari H baru ketahuan indeksnya kurang.

Monografi ketokonazol ini ternyata sedikit. Dan di pasaran hanya ada dalam bentuk tablet, krim dan shampoo. Jadi pagi-pagi sebelum tiba giliran akses buku pool, saya kerjakan sedikit monografi, undang-undang dan farmakologi. Kalo di daftar undang-undang, obat ketokonazol itu termasuk DOWA II (Daftar Obat Wajib Apotek). Namun setelah di cek lagi di daftar perubahan golongan obat, ketokonazol yang semula DOWA II menjadi OBT (Obat Bebas Terbatas II). Itu permenkes terbaru. TAPI, terdapat pembatasan yaitu hanya untuk pemakaian luar. Pertanyaannya, apakah bentuk solida atau likuida yang oral juga berubah golongannya? Awalnya saya menggolongkan suspensi ketokonazol ini sebagai OBT, mengikuti permenkes tersebut, tapi setelah memperhatikan dst, menimbang dst, meninjau dst, obat ini digolongkan Obat Keras. Kenapa? Indikasi dan efek samping banyak, peringatan banyak, lagipula penggunaan secara sistemik berbeda dengan lokal, dan di ISO/MIMS semuanya G. Akhirnya ganti lagi undang-undang setelah istirahat. (Pesan 2 : PERHATIKAN UU TERBARU OBAT KITA, PAHAMI ARTI PEMBATASAN DALAM PERATURAN TERSEBUT, LIHAT FARMAKOLOGI DAN KEMUNGKINAN2 LAIN YANG DAPAT DIJADIKAN DASAR PENGGOLONGAN OBAT KITA)

UU selesai, akhirnya masuk pada bagian yang paling panjang dalam ujian penelusuran pustaka. Siapkan kamus bahasa inggris ya. (Pesan 3 : JIKA PUNYA KAMUS KEDOKTERAN DORLAND, AKAN SANGAT LEBIH BAIK), karena sering ada istilah yang tidak ada padanannya dalam 1 kata bahasa Indonesia. Yang agak pening, ya saat menulis interaksi obat yang banyak, penggunaan pada kondisi khusus yang takut kebalik dengan peringatan, dan menerjemahkan toksisitas. Tiba giliran ke pool dan indeks zat aktif, alhamdulillah sebagian datanya ada, tapi lagi-lagi yang ditakutkan terjadi, dimana-mana tidak menemukan data stabilitanya. Florey juga gak ada, padahal kalo kata Pak Iim, Florey itu seperti Shahih Bukhari Muslim yang kalo gak pernah disentuh rasanya gak afdhal. Tapi gimana lagi, ketokonazolku tak ada di Florey. Oya, terjadi kekacauan saat akses buku pool, diantaranya inkonsistensi jatah waktu, lupa cara baca indeks Merck Index, mati lampu (hehe..). (Pesan 4 : BERSIKAP RILEKS SAAT AKSES BUKU POOL, PERHATIKAN PJ LAJUR, KENALI BUKU POOL SEBELUM ANDA BERTARUNG).

Yup, tiba waktu istirahat. Bukannya sibuk mereview, malah cari ivan, pj catering. Maklum selain menjadi peserta juga merangkap sebagai ibu konsumsi. (Pesan 5: PJ KONSUMSI HARUS MENYELESAIKAN SEGALA SESUATUNYA SEBELUM HARI PERTARUNGAN YA).

Setelah istirahat hari pertama selesai, siang hingga sore hari adalah waktunya menyelesaikan UU yang tadi salah dan evaluasi sediaan (yang harus siap salin). Alhamdulillah beres.

Waktu terus berlalu dan malam pun datang, mata ingin segera terpejam dan beristirahat di peraduan, tapi apa daya, hari esok belum ada jaminan ketenangan, karena hingga tengah malam formulasi belum jua kelar. Alhamdulillah ada Fetri, Sinta, dkk yang memberiku advice yang tepat tentang farmakologi dan teknologinya, thanks berat ya teman2.

--------------------------------


Hari 2

Untuk hari kedua persiapkan tenaga ekstra untuk menulis, menulis dan menulis. Jangan sisakan waktu untuk diam, tetaplah menulis meski pegal tak dinyana. Artinya, pada malam sebelumnya segala yang akan ditulis harus siap sedia. Baik itu evaluasi sediaan, formulasi, metode pembuatan, bahkan pengujian mutu, kedua terpanjang setelah farmakologi dalam ujian ini. Tapi perhatikan juga tulisannya, jangan sampai dosen2 tidak jadi memberi nilai sempurna hanya karena tulisan tangan anda yang tak konsisten. (Pesan 6 : tidurlah untuk mempersiapkan hari ke-2, dan siapkan segala folder siap salin, ingat harus siap salin, hari ke-2 hanya menyisakan sedikit waktu untuk berpikir).

Lalu…

Alhamdulillah, lulus tanpa peringatan. Tumpah ruahlah air mata kami yang entah kesekian kali. Air mata yang keluar terakhir ini menumbuhsuburkan semangat di perkarangan hati kami untuk menuntaskan perjuangan tahap 2 yang akan kami hadapi.SEGERA….


TAHAP 2 : UJIAN LABORATORIUM

Ujian laboratorium adalah ujian yang lebih berat dibandingkan ujian penelusuran pustaka. Selain berat persiapan teknisnya, juga berat konsekuensi yang harus dihadapi jika tahap 2 ini gagal. Tapi kebahagiaan datang dari hati, karena itu yang paling berat adalah bagaimana membuat hati bahagia menghadapi tribulasi-tribulasi ujian laboratorium.

Yang paling penting dari ujian tahap 2 ini adalah siapkan bahan untuk pembuatan jurnal laboratorium. Buat pengaturan yang baik dalam pembagian penggunaan alat evaluasi, pembagian pj ruang, pembagian alat dan bahan ujian. (Pesan 7 : Persiapkan diri anda untuk bekerja dalam tim sekaligus menyelaraskannya dengan kepentingan anda sendiri).

Pada hari pertama, alhamdulillah bisa mengerjakan beberapa evaluasi sediaan. Dan suspensiku jadi, berwarna kuning dan beraroma jeruk. Tapi kurang kental dan rasanya juga kurang manis. Kalo saya jadi anak-anak, mungkin saya akan memilih obat yang lain, hehe. (Pesan 8 : Selama diaduk, perhatikan kekentalan suspensi dan uji organoleptik, terutama ‘rasa’ saat itu juga. Oya, yang jangan dilupakan adalah SELALU lapor jika akan melakukan evaluasi atau penambahan bahan).

Hari kedua, uji stabilitas volume sedimentasi saya jelek sekali. Nilai F nya meurun drastis, jauhhhh sekali dibandingkan hari pertama. “ya Alloh, semoga gak cacking”, gumamku dalam hati. Akhirnya saya lapor pada Bu Jessi kalo evaluasi volume sedimentasinya sudah selesai dan saya ingin menguji apa terjadi cacking atau tidak. Alhamdulillah ketakutanku tidak terjadi.

Hari ketiga adalah mengerjakan evaluasi yang belum sempat dikerjakan, diantaranya rheologi dan uji distribusi partikel. Oya, sebelum anda bertarung dalam ujian ini, upayakan sudah bert’aruf alias berkenalan bahkan saling paham dengan alat-alat evaluasi. Jangan habiskan waktu anda untuk membaca manual alat pas hari H, dijamin stress. Paham system alat juga penting, karena dosen mungkin saja akan bertanya tiba-tiba saat anda lengah. Hal ini beneran terjadi pada saya loh… Dan yang terakhir adalah pengemasan sediaan. Upayakan buat nama yang bagus, relevan, mudah diingat berikut dengan desain yang elegan. JIka anda tidak bisa, serahkan pada ahlinya. :P (Dengan ini sekali lagi saya ucapkan makasih banyak untuk Manda yang telah mendesain kemasanku, desain yang bersahaja namun unik memesona)



Lalu..

Alhamdulillah kembali lisan ini memuji Alloh, akhirnya lulus juga tanpa peringatan. Kali ini, air mata menetes membasahi bunga-bunga senyum yang bermekaran, berbahagia, karena tinggal satu langkah lagi menuju salah satu cita-cita kami:).

--------------------------------


TAHAP 3 : UJIAN LISAN

Persiapan ujian lisan ini bisa dibilang sangat minim, karena saya dan teman2 sudah mulai kuliah S2. Tapi alhamdulillah, 2 hari terakhir saya belajar sangat ekstra (kalo gak bisa dibilang Sistem Kebut 2 hari), dan sempat menginap belajar di rumah Amanda (Makasih ya, Manda).

Finally, tahap 3 tiba. Blazer ibu pun dipakai untuk menambah kesan serius dan siap untuk menjawab pertanyaan para pakar dan praktisi itu. (Pesan 8 :Pakaian yang kita kenakan mendukung rasa percaya diri lho, serius). Alhamdulillah pertanyaan-pertanyaan penguji dapat dijawab, meski terkadang disertai cengengesan dan ada beberapa yang out of my brain, alias gua kagak tahu ada teori kaya gitu. Yang penting, kuasai terlebih dahulu KP kita selama 2 semester dan share dengan kawan2 yang KP di tempat lain. Seperti halnya sidang sarjana, cool dan pakailah logika anda jika anda lupa teori yang sempat menjejali otak anda selama beberapa tahun di bangku kuliah. Lalu ucapkan tidak tahu jika anda memang benar-benar tidak tahu, sebab anda berhadapan dengan praktisi yang tidak hanya berbekal teori tapi juga pengalaman praktis bertahun-tahun.

Akhirnya…

Saat yang mendebarkan pun tiba, beberapa wajah tertunduk lesu menanti selembar kertas yang 2 tahap lalu ditempel biasa di papan pengumuman. Ada pula yang masih bisa tertawa riang karena pada umumnya tahap 3 hanyalah formalitas, ujian sebenarnya adalah tahap 1 dan 2. Lalu dimanakah aku? Ah, percaya saja bahwa Alloh akan memberikan hasil terbaik. Yang penting sudah ikhtiar semaksimal mungkin, baik itu materi, raga, jiwa, otak, akal, persahabatan, keluarga, semua……..:)


Hasilnya, semua lulus menjadi S.Si Apt. Kembali kami terpekur sujud menerima hadiah yang sangat besar dari pencipta langit dan bumi. Terimakasih, untuk semuanya yang telah mengantarkan kami menuju gerbang ini, tolong jangan tinggalkan kami untuk melangkah menuju gerbang cita-cita selanjutnya yaitu Indonesia Sehat Merdeka. Majulah apoteker-apoteker Nusantara..!!


-19 Oktober 2007-

Detik-detik Menjelang Kehadirannya

Malam itu tanggal 18 Desember, saya merasakan mulas yang begitu kuat. Dari jam 11 malam, rasa mulas itu timbul akibat kontraksi yang berlangsung rutin 5 menit sekali dengan lama kontraksi sekitar 50 menit. Jam 1 malam, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit Mitra Keluarga Depok. Bidan jaga kemudian memeriksa tingkat pembukaan jalan lahir saya yang ternyata masih pembukaan 2. Kemudian dilakukan CTG atau pemeriksaan jantung bayi selama 20 menit. Karena pergerakan janin kurang aktif saat itu, bidan memberi saya oksigen untuk dihirup selama 1 jam lalu dilakukan pemeriksaan CTG kembali. Saat itu jam 4 pagi, saya dipindahkan ke ruang rawat inap sambil menunggu pembukaan beranjak meningkat.

Hingga pukul 7 pagi, saya baru sampai pada tingkat pembukaan 5. Setelah itu saya kembali ke ruang bersalin untuk menunggu sampai pembukaan lengkap. Karena mulas yang saya alami masih lemah sehingga pembukaan meningkat dalam waktu yang cukup lama, maka setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan saya lewat telepon, bidan memberi saya obat untuk induksi kontraksi. Saat itu dokter memang tidak berada di tempat, sehingga untuk proses pembukaan saya dibantu oleh para bidan jaga. Tidak hanya diinduksi melalui infus, ketuban saya juga dipecahkan untuk merangsang kontraksi. Setelah diinduksi saya mulai merasakan kontraksi yang lebih kuat dan durasinya lama setiap sekitar 2 menit sekali. Pernah karena saking tidak kuat menahan rasa sakit, saya sempat menendang besi tempat tidur di kampar bersalin.

Dengan bantuan induksi, jam 8 saya sudah sampai pada tingkat pembukaan 8. Saat itu dokter ahli kandungan saya baru saja tiba. Menjelang pembukaan lengkap, kontraksi semakin kuat dan rasa ingin mengejan semakin besar. Bu bidan mengingatkan saya untuk melakukan posisi persalinan litotomi seperti yang telah diajarkan di kelas senam hamil. Dengan sigap, suami saya juga membantu untuk mengangkat kepala saya saat mengejan. Jadi tekniknya, dalam posisi terlentang atau setengah duduk, angkat kedua kaki dan kaitkan dengan lengan hingga batas siku. Setelah itu tarik nafas panjang, kepala diangkat, mengejan dengan kuat sambil melihat perut, lalu buang nafas lewat mulut. Meskipun saya sudah ikut kelas hamil sebanyak 6 kali pertemuan, ternyata pada hari-H rasa panik membuat saya lupa akan teori-teori tersebut. Rasa mulas pun muncul ketika pembukaan lengkap, dan dokter bersama bidan meminta saya untuk mengejan. Saya mengejan sebanyak 6 kali hingga akhirnya bayi mungil itu keluar. Suara tangis pun pecah dan saya merasa lega, alhamdulillah. Sungguh suatu momen perjuangan alamiah yang sangat berat sehingga pantas orang-orang menyebut proses melahirkan seperti antara hidup dan mati.

Tapi ternyata rasa sakit yang lebih hebat lagi terjadi pasca melahirkan. Ada bagian ari-ari dalam rahim saya yang tertinggal, menempel pada rahim. Dokter kemudian mengambil potongan ari-ari itu dengan cara memasukkan seluruh tangannya ke dalam rahim saya. Masya Allah, pada saat itu saya menjerit tak kuasa menahan sakit. Setelah bayi keluar, lalu kemudian IMD (Inisiasi Menyusui Dini), saya pun harus dijahit. Itu karena saya mengejan terlalu cepat sehingga otot perineum robek. Padahal beberapa kali pada trimester akhir saya coba belajar senam perineum di rumah untuk melenturkan otot tersebut ketika melahirkan. Kemudian dokter dengan sigap menyuntikkan 3 ampul obat bius lokal. Saat jarumnya menyentuh kulit, entah kenapa saya merasa obat bius lokal tersebut tidak mempan, sebab rasanya masih sakit. Dan secara refleks, otot-otot yang akan dijahit mejadi kaku sehingga menyulitkan dokter untuk menjahitnya. Berkali-kali dokter menyuruh saya untuk rileks. Namun tetap saja saya tidak bisa rileks hingga akhirnya dokter ’mengancam’ dengan menawarkan saya 2 pilihan, yaitu rileks karena saya sudah dibius lokal sebanyak 3 ampul sehingga rasa sakit akan berkurang atau bius total tapi tidak akan bisa menyusui bayi dalam waktu yang lama. Mendengar ’ancaman’ tersebut, saya tentu memilih opsi pertama, saya paksakan otot saya rileks. Jutaan energi positif saya coba hadirkan untuk membantu, sambil tak henti meminta kekuatan kepada Allah. Proses menjahit pun berlangsung cukup cepat dan alhamdulillah selesai sekitar pukul 9.15.

Seharusnya pada persalinan normal, ibu yang habis melahirkan harus sudah bisa jalan untuk menengok bayinya. Tapi karena tensi saya sempat drop, 90/60 mmHg, dan juga masih terasa pening, saya baru bisa bangun pada pukul 13.00. Pada waktu itu saya diantar ke ruang rawat inap dan beberapa jam setelahnya, bayi mungil itu pun diantar untuk memenuhi kerinduan keluarganya yang menunggu di kamar saat itu. Rasa rindu pun terbayar sudah..karena bersama akan lebih indah.


-19 Desember 2009-

Karena Aku Begitu Cantik

Saat pertama melihat cover buku ini, saya sungguh terkesan. Bersampul tebal, berwarna biru keunguan, dan ada sepotong cermin yang diletakkan dengan bersahaja di tengahnya. Saat saya melihat bayangan di cermin itu, kemudian melihat judulnya, saya tersenyum-senyum sendiri… “Luar biasa ini buku”, gumam saya. Sungguh bukan karena ‘narsis’, tapi karena kagum dengan pewajah sampul yang tampaknya ingin merefleksikan judul buku dan kisah didalamnya pada cover buku tersebut.

Azimah Rahayu adalah seorang penulis yang namanya cukup terkenal, meski mungkin tidak seterkenal Mbak Helvy Tiana Rosa, atau adiknya Asma Nadia. Tapi beberapa karyanya ada yang menjadi best seller dan sebagian besar memang senada dengan judul buku yang saya beli kali ini. Pagi Ini Aku Cantik Sekali (Syamil, 2003), Hari Ini Aku Makin Cantik (Syamil, 2005) dan Karena Aku Begitu Cantik (Sygma Publishing, 2008) adalah karyanya yang saya sebut tadi dengan senada.

Hanya satu orang yang memberi komentar atas buku ini. Kalo misalnya novel-novel bestseller internasional dikomentari oleh The New York Times, The Wall Street Journal, The Boston Globe, atau mungkin novel bestseller Indonesia dikomentari oleh Pak Ahmad Tohari misalnya, maka tulisan Mbak Azi ini hanya dikomentari oleh seorang perempuan, yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia tulis menulis. Tapi dalam komentarnya yang cukup panjang, terefleksikan kecerdasan dan kecantikan tersendiri dari sang komentator, dia adalah Sandrina Malakiano Fatah. Dan di buku inilah, ia terdorong untuk menceritakan sebagian kisahnya saat mempertahankan keyakinan untuk mengenakan jilbab, hingga akhirnya ia keluar dari salah satu stasiun televisi terkemuka yang telah mengangkat namanya.

Karena Aku Begitu Cantik merupakan catatan harian seorang muslimah yang ditulis dengan apik dan sederhana. Dengan mudah siapapun akan langsung mendapatkan pesan dari setiap artikel yang ditulis Mbak Azi ini. Masing-masing tulisan dikelompokkan dalam bab yang diberi judul nama-nama bunga. Ada melati, mawar, sakura, anggrek, teratai dan anyelir. Entah apa dasar pembagian kelompok-kelompok bunga ini, tapi saya rasa, pengelompokkan ini adalah strategi sang penulis untuk mengajak kita pada sisi terdalam alasan pembuatan judul buku ini. Dan saya yakin, setiap kita pernah mengalami hal yang sama dengan apa yang diceritakan, namun tidak setiap kita memiliki kemampuan yang sama untuk menuliskannya menjadi mutiara-mutiara hikmah seperti ini. Ada yang mengungkapkannya melalui lisan dengan cara curhat, ada yang menuliskannya dalam buku diary lalu merahasiakannya, ada yang menulisnya di blog lalu mempublishnya, ada pula yang menuliskannya lalu diterbitkan dalam sebuah buku.

Saya habiskan membaca buku ini dalam beberapa hari. Dan di setiap akhir bab, saya mengambil jeda sambil termenung, lalu saya tutup buku itu. Menatap cermin dan lagi-lagi..saya tersenyum. Setiap bab yang saya selesaikan dengan santai, sambil menikmati bagian-demi bagian tulisan mbak Azi membuat saya semakin paham mengapa judul buku ini “Karena Aku Begitu Cantik”.

Artikel yang paling saya sukai adalah Sahabat, Jikalah Pada Akhirnya dan Nikmatilah Karena Ini Pun Akan Berlalu. Berperan lagaknya seorang trainer, Mbak Azi ini berkali-kali memompa motivasi kita untuk mencintai diri sendiri dan mencintai Allah yang telah membuat keadaan kita begitu sempurna, meski sempurna menurut kita belum tentu sempurna menurut-Nya. Ini secuil tulisannya dalam bentuk puisi :

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa tidak dinikmati saja,
Sedang ratap tangis tidak akan mengubah apa-apa

Jikalah luka kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama

Jikalah benci dan marah akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti diumbar sepuas rasa,
Sedang menahan diri adalah lebih berpahala

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang tobat itu lebih utama

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipatgandakannya

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti membusung dada,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak memiliki arti

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya
Mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta

Duhai, indah nian bukan? Sederhana, sarat makna. Sahabat bisa temukan arti judul ”Karena Aku Begitu Cantik” dengan mengeksplore buku ini sendiri. Nah bagaimana dengan kaum adam? Haruskah judul ini dibuat lebih general? Tidak harus seperti itu, kalau mau silakan baca saja dan coba perhatikan bayangan yang terpantul dari cermin itu, apa sahabat juga ikut tersenyum? :p

-29 Desember 2008-

Saturday, May 15, 2010

Biarkan Aku Pulang

Musim semi nanti
Izinkan aku pulang
Ke rumah seribu merpati
Dan seribu matahari

Aku hanya ingin pulang
Ke rumah permata dan para peri
Yang tak jemu berbagi mimpi

Maka biarkan aku pulang
Ke rumah bertaman sederhana
Yang tumbuh dengan mata air keimanan

Sebentar lagi aku pulang
Ke rumah itu mengetuk pintu
Disambut mereka yang mencintaiku

-7 Juni 2009-

Pernahkah Kusampaikan Padamu?

Pernahkah kusampaikan padamu
Tentang air mata yang berjumpa senja
Kala ia menggenggam cinta?

Jatuhnya terurai diam
saat menatap gemintang
yang bergelak pelan
di angkasa raya

Maka kita pun mengeja semesta
Menunjuk satu demi satu gugusan bintang
yang berkilau di langit selatan

Seketika tasbih dan takbir membuncah
Dari dada-dada kita
Meniup suasana malam
Dengan hawa syukur nan dalam

Pernahkah kusampaikan padamu
Arti air mata itu?
Ia adalah jelmaan kalimat
Yang ingin kusampaikan padamu setiap waktu
”Aku mencintaimu"

- Planetarium, 2009 -

Hujan

Hujan
Sedari tadi dinanti
Oleh bumi yang mati
Kering terbakar matahari
Ditambah sapuan angin

Awan kelabu bergumpalan
Di langit bulan Juli
Mengajak burung-burung tuk menari
Berpesta dengan hujan sore hari

Apa gerangan kabar darinya yang gerimis?
Tetesannya adalah rahmat dan kabar gembira
Bagi kehidupan..
Sayup terdengar bisikannya kepada tanah
”aku diutus oleh Sang Maha Pengasih, kawan”

Terimakasih hujan
Telah menemaniku berpuisi
Bisikanmu kubaca selalu
Di lembaran surat Sang Pengutusmu itu

16 Juli 2007

Ada Kalanya Kerinduan Lebih Bermakna

Dalam proses perkenalan dengan calon pasangan hidup, salah satu yang menjadi pertimbangan bagi setiap perempuan adalah apakah calon pasangannya berpenghasilan atau tidak, baik itu tetap maupun tidak tetap. Hal itu juga yang menjadi pertimbangan orang tua perempuan, selain agama tentunya, ketika calon menantunya datang mengajukan niat menikahi putrinya. Seperti halnya yang saya alami ketika dulu berkenalan dengan suami saya sekarang. Ia bekerja di bidang oil and gas dengan sistem on-off, 2 minggu di field (palembang) dan 12 hari off. Jadi selama sebulan, kami hanya bertemu sekitar 12 hari bahkan terkadang kurang. Kenyataan tersebut juga sudah dipertimbangkan, dalam arti ketika menikah berarti siap untuk ’ditinggal’.

Pada awalnya hal tersebut terasa biasa-biasa saja, sebab ketika ia di field, saya mengerjakan tesis di bandung, jadi tak terasa waktu cepat berlalu. Namun ada saja momen-momen yang membuat saya melow, merasa tidak tegar untuk berpisah. Mungkin terkesan konyol, tapi momen itu akhir-akhir ini semakin banyak dan mengantri. Momen itu adalah momen menghadiri undangan pernikahan teman. Kenapa bisa seperti itu?

Hampir di setiap undangan yang saya hadiri, saya selalu ditanya ”Dika sendiri?”, dan pertanyaan itu lebih tepat terdengar ”Dika gak sama suami?”. Hal itu tidak masalah pada awalnya, namun menjadi masalah ketika saya merasa memang sendirian di tengah para pasangan-pasangan baru yang juga datang ke undangan. Sempat ada yang nyeletuk ”Dika baru ditinggal suami 2 minggu aja udah ngelamun gitu” (ayo ngaku ini siapa :p). Masya Allah, rasa rindu saya pada suami saya semakin besar. Entah itu perasaan rindu atau sebenarnya hanya emosi cemburu melihat pasangan lain yang bisa datang bersama dan begitu mesra. Aneh bukan, padahal dari rumah niatnya adalah memenuhi undangan sahabat..tapi godaan syaitan yang menghembuskan rasa iri selalu mengintai di setiap tempat, setiap waktu.

Saat perjalanan pulang, yang tentunya sendirian, saya tuangkan kesedihan tersebut di sms dan saya kirimkan pada suami saya. Lama sms tak terjawab dan ada perasaan menyesal di hati saya, suami saya tidak bisa menemani saya karena sedang bekerja mencari nafkah dan kini saya membebaninya lagi dengan curahan emosi seperti itu. Astagfirullah, maaf Mas. Beberapa waktu setelah itu hp berbunyi, masuk sms jawaban dari suami saya ”Sabar ya, tidak semua yang terlihat indah itu sejatinya indah, adakalanya mungkin kerinduan kita lebih indah dari kebersamaan..i love u”..

Subhanallah Alhamdulillah, kalimat itu terasa seperti tetesan air di padang hati saya yang sedang kering terbakar rasa cemburu..sejuk sekali..dan saat itu juga saya merasa rindu yang sangat dalam yang kemudian mewujud dalam sebuah doa untuk dirinya. Ya adakalanya rasa rindu lebih bermakna dari sebuah kebersamaan..

Terimakasih ya Rabb,

Terimakasih Mas..


-Tulisan setahun lalu (Mei 2009) -

Saturday, February 27, 2010

Dialog Khayal Di Sebuah Kamar

Bunda : Kenapa selalu melihat ke atas, Sayang?
Ananda : Lihat diatas ada bintang, Bunda.
Bunda : Iya, sayang. Bersinar ya..
Ananda : Tunjuk satu bintang untukku, Bunda.
Bunda : Mana bintang yang kau mau?
Ananda : Itu, Bunda. Bintang yang paling terang. Al Qur’an...
Bunda : Iya Sayang, Al Qur’an adalah bintang yang akan menyinari langkah kehidupanmu.
Ananda : Ada satu lagi, Bunda. Yang temaram di malam hari dan selalu kurindukan.
Bunda : Apa itu rembulan?
Ananda : Ya Bunda. Rasulullah adalah rembulanku. Bahkan katanya wajahnya lebih indah dari temaram purnama. Adakah Rasul berkenan menyapaku di surga?
Bunda : Kita minta pada Pemilik rembulan ya, Sayang.
Bunda : Sekarang boleh bunda tunjuk satu bintang, Sayang?
Ananda : Ya, Bunda. Kalo aku sanggup, aku akan menjemput dan membawanya pada Bunda.
Bunda : Sudah kok, Sayang. Sang pemilik bintang sudah mengantarkannya ke rumah Bunda. Bintang yang telah membuat dunia bunda bersinar kini sedang tidur di sisi bunda.. Bintang bunda adalah kamu, Sayang. Mau kan untuk terus memberi terang dunia hingga akhirat bunda?
Ananda : (Menatap..) Aku sayang bunda..
Bunda : (Memeluk erat dalam diam)
Rabbana hablana min azwajina wadzurriyyatina qurrata ’ayun waj’alna lil muttaqina imama

Note : Dan Ayah tetap menjadi bintang kesayangan bunda :)