Sunday, May 30, 2021

Bala-bala Warisan Nenek

Saat diumumkan kalau Tema Tantangan Blogging Mama Gajah Ngeblog bulan Mei ini adalah Resep Masakan Andalan, kontan saja nyali ini ciut untuk menulis. Mau masak saja proses brainstormingnya lebih lama dibandingkan di dapurnya, apalagi harus menuliskannya di blog. Katanya makanan favorit itu adalah makanan yang dimasak orang lain, maka bisa jadi hal itu berlaku untuk saya..hehe. Tapi jika berbicara tentang resep masakan andalan, pikiran saya malah melambung pada suatu masa. Masa yang akan selalu dikenang. 

Jika ditanya apa makanan favoritmu, maka saya pasti bingung menjawabnya, karena makanan favorit saya banyak. Tapi kalau ditanya apa makanan favoritmu waktu kecil? Maka jawabannya sudah pasti bukan eskrim, atau coklat, atau permen, meski ya sebenernya kalau dikasih pasti tak akan menolak. Makanan favorit saya sejak kecil dan sepanjang masa adalah bala-bala. Bala-bala atau bakwan adalah makanan ‘wajib’ saya waktu kecil. Sehari tanpa makan bala-bala rasanya ada yang kurang. Bala-bala selalu ada di rumah kami saat pagi dan sore hari. Bala-bala juga adalah menu ta’jil yang selalu tersaji saat bulan puasa. Bala-bala sudah menjadi bagian penting dari tradisi keluarga kami. Kami punya ikatan emosi yang sangat kuat dengan bala-bala. 

Sejak lahir hingga kelas 6 SD, saya beserta ibu dan adik tinggal bersama nenek dan 15 anggota keluarga lainnya di sebuah rumah di Kota Bandung. Jumlah yang cukup banyak bukan? Rumah nenek berada di pinggir jalan yang ramai dilalui angkot. Nenek membuka usaha warung nasi yang memiliki cukup banyak pelanggan. Dalam menjalankan usahanya tersebut, nenek dibantu oleh anak-anak dan cucu-cucu perempuannya. Anak- anak perempuan bertugas belanja ke pasar dan memasak. Cucu-cucu perempuan remaja bertugas menghaluskan bumbu dan memotong-motong aneka protein hewani. Cucu-cucu perempuan yang masih kecil, saya dulu termasuk di dalamnya, bertugas memotong-motong sayuran dan aneka bawang. Meski terkadang pembagian tugas tersebut tidak baku, tapi yang pasti semua mendapat giliran menjaga warung dan melayani pembeli, baik yang makan di tempat, yang minta dibungkus atau yang hanya beli aneka komoditas rumah tangga. 

Dari sekian jenis makanan yang tersaji di Warung Nasi Ibu Apandi, sebutan untuk warung nenek saat itu, ada satu makanan yang menjadi primadona. Makanan itu adalah bala-bala. Meski ada gorengan tempe dan pisang, bala-bala yang paling banyak dicari orang. Dalam sehari nenek bisa membuat bala-bala hingga 3-4 siklus, apalagi kalau anak dan cucu ikutan ngemil bala-bala jatah jualan. 

Kebiasaan pelanggan berbeda-beda. Ada pelanggan yang request, “Hoyong bala-bala nu ditiupan” (Ingin bala-bala yang masih panas yang masih bisa ditiup), “Aya bala-bala nu garing?” (Ada bala-bala yang kering?). Ada pula pelanggan yang langsung masuk ke dapur dan mencari bala-bala yang baru diangkat dari wajan. Dapur nenek sudah tidak privasi lagi..hehe. Kami para cucu juga tidak kalah bawel, yang satu minta bala-bala kering, yang satu minta setengah matang, ada lagi yang minta bala-bala tanpa isi, ada juga yang minta bala-bala bopeng. Untuk yang terakhir itu adalah favorit saya dan adik. Bala-bala bopeng itu adalah bala-bala kering dengan tekstur yang tidak mulus, semakin bopeng kok semakin nikmat rasanya. 

Gambar 1. Bala-bala favoritku


Gorengan di Berbagai Negara

Indonesia memang terkenal dengan aneka gorengan. Rasanya yang renyah dan gurih memang cocok dijadikan camilan kapan saja. Tidak hanya enak, gorengan juga mudah sekali dibuat. Khusus untuk bala-bala ternyata ada sejarahnya tersendiri di nusantara. Bala-bala atau bakwan memiliki penyebutan berbeda-beda. Bagi orang Sunda, bakwan dikenal dengan sebutan bala-bala. Sementara di beberapa daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, bakwan dikenal sebagai pia-pia dan ote-ote. Di Banyuwangi disebut sebagai “hongkong” yang artinya bakwan sayur goreng. 

Gorengan juga terkenal di berbagai negara lain di dunia. Di Jepang dikenal sebagai kakiage, di Korea disebut pajeon, di India disebut pakora, sementara di Timur Tengah dikenal dengan nama falafel. Ada yang menyebut bakwan dari China. Kata bakwan berasal dari salah satu sub bahasa Tiongkok yaitu ‘bak’ yang berarti daging dan ‘wan’ yang bermakna bola. Dalam buku A History of Food (2008) disebutkan bahwa gorengan sudah ada sejak 1200 Sebelum Masehi. Mesir adalah tempat lahirnya teknik menggoreng dalam minyak banyak (deep frying) yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. 

Kembali pada bala-bala, kenapa di Sunda bakwan disebut dengan nama bala-bala? Bala berasal dari kata ‘Ngabala’ atau menyampah. Jadi bala-bala dibuat dengan cara mencampur terigu dengan berbagai sisa sayuran, seperti wortel, tauge, labu dan kol. Bentuknya juga tidak karuan. Berbeda dengan gorengan tempe, tahu, dan pisang yang bentuknya lebih rapi. Tapi justru itu yang menjadi keunikan bala-bala. 

Gambar 2. Jenis gorengan di dunia


Bala-bala Khas Nenek 

Berbeda dengan bala-bala pada umumnya, nenek membuat bala-bala dengan bentuk yang lebih rapi, atau dikenal dengan bala-bala cetak. Nenek berinisiatif menambahkan pegangan kayu panjang pada sutil dan diikat dengan kawat sehingga bisa digunakan untuk mencetak bala-bala dalam wajan. Entah apakah dulu tidak ada yang menjual cetakan atau nenek memang suka DIY (Do It Yourself) sambil menghemat rupiah. 

Waktu saya kuliah, saya kembali tinggal di rumah nenek karena ibu saat itu dipindah tugas ke Jakarta dan saya tidak bisa ikut. Cucu-cucu yang dulu tinggal di rumah nenek sebagian besar sudah menikah dan pindah keluar kota. Saya, adik dan dua anak perempuan nenek tetap setia membuat bala-bala dan menjaga warung nenek, meski sudah tidak berjualan nasi lagi. 

Saya cukup sering membawa bala-bala ke kampus dan menjualnya di kelas. Sebelum dosen yang mengajar di jam pertama masuk, bala-bala sudah habis diserbu. Alhamdulillah. Tahun demi tahun berlalu, Nenek yang raganya sudah semakin lemah tidak kuasa lagi untuk memasak dan berlama-lama di dapur. Namun karya resep nenek sudah berhasil di ‘copy paste’ oleh anak-anak perempuannya. Semua sudah bisa membuat bala-bala sendiri, termasuk saya. Sombong. Tapi tetap saja tidak ada yang seenak bala-bala nenek, karena nenek selalu menambahkan bumbu rahasia, yaitu bumbu cinta dan harapan. 

Gambar 3. Nenek Tercinta

Nenek selalu cerita kalau ia ingin semua anak dan cucu nenek bisa sekolah hingga jenjang sarjana, meski bermodal warung nasi yang berprimadonakan bala-bala. Alhamdulillah impiannya Allah kabulkan. Kini nenek sudah tiada, meninggalkan tidak hanya kenangan tapi juga 3 sutil legendanya yang diwariskan kepada ketiga anak perempuannya yang semuanya tinggal di Bandung. Seakan-akan nenek ingin memastikan bahwa kehangatan cintanya akan selalu ada di tengah-tengah kami. Maka jika kami, para anak dan cucu Nenek Apandi rindu, kami tahu harus pergi kemana. 

Gambar 4. Proses memasak bala-bala cetak


Resep Bala-bala Warisan Nenek 

Bahan-bahan : 

Sayuran Isian 
2 buah wortel 
5 buah labu sayur kecil 
Daun Bawang 
Garam 1 sdt (Sesuai selera) 
Bubuk kaldu ayam (opsional) 

Adonan tepung 
250 g tepung terigu 
5 sdm tepung beras 
Garam 1 sdt (Sesuai selera) 
Bawang putih bubuk secukupnya

Cara Membuat : 

1. Wortel dan labu dipotong kecil-kecil bentuk dadu
2. Rebus wortel, labu, daun bawang, garam dan bubuk kaldu ayam dalam sedikit air sampai empuk tapi tidak layu
3. Campur bahan tepung dalam mangkok besar dan tambahkan air sampai kekentalan yang diharapkan
4. Panaskan cetakan dalam minyak, jika cetakan sudah panas isi adonan tepung lalu tambahkan isian sayuran lalu tutup lagi dengan adonan tepung lalu masukkan ke dalam minyak
5. Setelah adonan dalam minyak setengah matang, keluarkan dari cetakan dan goreng hingga kecoklatan lalu angkat dan tiriskan
6. Bala-bala siap disajikan. Lebih nikmat jika dimakan dengan saus sambal atau cabe rawit





Saturday, April 24, 2021

Memoar Zeni

Ramah, bersahaja, tidak banyak bicara, itulah kesan pertama saat bertemu dengannya. Kami melaju di bis yang sama menuju rumah salah satu member pengajian As Sakinah di kota Aberdeen, Skotlandia. Pengajian yang dilakukan sebulan sekali ini adalah wahana temu kangen para muslimah Indonesia baik yang telah menjadi permanent resident maupun para mahasiswa yang sedang studi di kota yang dikenal dengan sebutan kota Granit. Saya yang berstatus sebagai istri mahasiswa tentu tidak akan melewatkan agenda bulanan ini, karena absen dari pengajian artinya melewatkan kesempatan bersilaturahmi, melewatkan kesempatan mendapat ilmu tentang islam dan tentunya melewatkan sajian menu kampung halaman yang selalu membuat kangen para perantau.

Zeni Rahmawati, demikian nama lengkapnya. Beliau dikenalkan oleh Mbak Nur, pengurus As Sakinah, saat membuka acara pengajian. Zeni adalah seorang mahasiswa PhD di University of Aberdeen. Saat itu, Zeni mendapat kehormatan untuk sharing materi keislaman. Nasehatnya mengalir bagai air, materinya sederhana namun disajikan dengan gaya bahasa yang membuat jamaah terpikat. Semakin terpikat lagi setelah Mbak Nur memberi tahu bahwa Zeni adalah seorang penghapal Qur’an. Tiga puluh juz telah melekat erat di dadanya. 

Sejak pertemuan pertama di As Sakinah, pertemuan kami berikutnya bisa dihitung jari. Beliau sibuk dengan penelitian S3, saya juga sibuk mempersiapkan agenda kepulangan kembali ke Indonesia karena masa studi suami hampir usai. Sungguh andai saya diberi kesempatan tinggal lebih lama di Aberdeen, saya akan sering jumpa dengannya, mendengar tausiyahnya dan menyetorkan hapalan saya yang jalan di tempat.   

Meski sudah kembali ke tanah air, saya masih bergabung dengan WAG As Sakinah. Mendapat informasi tentang kajian As Sakinah atau info lain tentang Aberdeen membuat rindu saya akan Aberdeen dan kenangan di dalamnya terobati. Suatu hari Zeni meminta bantuan untuk mengisi kuesioner tentang cover buku barunya. Beliau akan merilis buku pertama yang berisi kumpulan tulisannya di Facebook berupa pengalaman beliau selama tinggal di Aberdeen. Dan tentu saja setelah buku itu rilis, saya termasuk pemesan yang tak sabar untuk membaca kisahnya. 

Gambar 1. Pilihan cover buku

Bukan judul bukunya yang menarik perhatian saya meski tulisannya jelas-jelas eye catching. Tapi justru tagline di bawah judul yang membuat saya merasa bahagia telah membelinya. “Memoar Perjalanan Seorang Penghafal Qur’an, Kandidat Doktor Bidang Kimia di Skotlandia”, demikian tulisnya. Ada perasaan kagum namun ada pula rasa minder, sudah lah doktor, bidang kimia, hapal Qur’an pula. Tahu perumpaan remah rengginang kan ya? Maka remah rengginang itu saya, dan bintang gemilang itu Zeni.

 

Buku Diary Sang Pemimpi
Gambar 2. Buku Diary Sang Pemimpi

Kisah yang diceritakan di buku terbitan Nea Publishing itu tidak ditulis secara runut, satu sama lain ada yang saling berkaitan namun ada pula yang berdiri sendiri. Membacanya seperti sedang membaca diary, seru, personal, tapi sarat dengan hikmah. Diawali dengan cerita ketidaksengajaan Zeni bergabung dengan Griya Qur’an, sebuah lembaga tahsin-tahfizh di Surabaya yang menjadi awal mula lahirnya cita-cita Zeni untuk menjadi seorang hafizhah. Lalu lika liku seleksi beasiswa doktoral hingga akhirnya pilihan studi berlabuh di University of Aberdeen. Serta manis pahit perjuangan selama menjalani PhD sembari tetap mempertahankan hapalan Al Qur’an.

Perempuan Sendiri

Fragmen yang dominan dari buku ini adalah kisah tentang keseharian Zeni bersama teman-teman labnya yaitu para anggota grup penelitian Surface Chemistry and Catalysis. Zeni adalah satu-satunya perempuan di antara para pria bule tampan lagi pintar itu. Diceritakan pada mulanya Zeni merasa tidak nyaman, tidak berani, tidak bebas. Tapi siapa sangka seiring dengan berjalannya waktu, perkenalan yang kemudian berkembang menjadi persahabatan itu menjadi jalan bagi Zeni untuk mengenalkan indahnya Islam. 

Zeni memberi nama julukan yang lucu kepada 5 teman pria nya itu. Ada Si Jail sang teman diskusi, Si Ganteng yang tatapannya bisa meluberkan hapalan Qur’an berlembar-lembar, Si Unyu yang selalu tersenyum menawan, Si Raksasa yang berbadan tinggi besar dan sangat perhatian dan Si Genius yang cerdas namun kadang menakutkan. Dengan piawai Zeni mendeskripsikan karakter kelima teman prianya itu. Pembaca diajak untuk mereguk hikmah warna-warni sifat manusia, mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Tidak semata-mata Allah kirimkan orang-orang di sekitar kita melainkan Allah mempunyai maksud dan tujuan, yang andai kita dengan tulus menjalankannya maka akan kita temukan mutiara hikmah yang bernilai sebagai bekal perjalanan. Tidak lah semata-mata Allah menempatkan Zeni di Aberdeen, atau saya di sini dan kamu disana melainkan pasti ada misi kebaikan yang Allah titipkan bukan? Dan disanalah Zeni berhasil menjalankan misinya, sebagai agen muslim yang baik, menjadi da’i sebelum apapun, ‘Nahnu du’at qabla kulli syai’in’.  


Gambar 3. Zeni dan teman-teman satu lab (IG rahmawati_zeni)

Hobi berdiskusi

Di sub judul Bravest Man diceritakan bahwa Si Jail paling sering berdiskusi dengan Zeni tentang Islam. Dari mulai prinsip pergaulan, aturan mencari pasangan, hingga masalah takdir. Memang prinsip Zeni sebagai muslimah yang tidak mau bersalaman dan berpacaran merupakan sesuatu yang unik, out of the box, berbeda dengan budaya disana sehingga teman-temannya tertarik untuk membahasnya. Meski berbeda pendapat mereka tidak pernah heboh menyalahkan atau mencoba membenturkan pendapat masing-masing. 

Ini adalah salah satu catatan teman Zeni ketika ia meminta pendapat tentangnya. 

“Your character is si opposite, like east and west. You are so open minded, like to talk and help every`body. It’s so easy for you to interact with other people, but you have a lot of limitation, you cannot shake hand, you don’t touch man, you hate when other people touch your head. You are so protective to your body”. 

Bagi Zeni dan muslimah lain yang menjadi minoritas, upaya menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya tidak mudah. Jika mereka memandang jilbab adalah penindasan, maka sebenarnya jilbab adalah kebebasan. Jika mereka mendapat gambaran dari media bahwa aturan Islam itu adalah bentuk pengekangan, maka sebenarnya aturan itu adalah bentuk perlindungan. 

Ada lagi kisah tentang Si Ganteng yang mengundang teman-temannya makan siang untuk merayakan kelulusan. Mereka setuju untuk bertemu di The Bobbin, salah satu bar di kota Aberdeen. Hanya Zeni yang tidak bisa ikut. 

“How about lunch today? The only issue is how about Zeni”, Si Imut mengawali diskusi. 

“The closest place and have enough space for ten people is The Bobbin”, timpal Supervisor. 

“But I cannot go there”, tegas Zeni. 

“You can order hot chocolate and vegetarian food”, timpal Ganteng yang paham bahwa Zeni hanya memilih makanan ‘halal’ 

“I cannot understand. You don’t have to drink alcohol and you can eat vegetarian or seafood. Why do you still refuse to go?”, keluh Cicik, salah satu teman perempuan Zeni. 

“It’s not about the food, it’s about the place, terang Zeni. 

Bar tidak identik dengan hal yang negatif menurut budaya disana tapi disinilah prinsip Zeni diuji. Meski Ganteng adalah teman baik, tapi jika ajakannya bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakini, maka tidak ada tawar menawar. Alih-alih Ganteng menjadi ‘pundung’, sebagai laki-laki gentleman dia malah menawarkan Zeni untuk pergi ke kedai kopi setelah makan siang. Satu hikmah yang bisa dipetik adalah sedekat apa pun hubungan kita dengan seseorang, jangan sampai ragu atau mudah menukar prinsip. Insyaa Allah keteguhan akan menjadi syarat terbukanya jalan keluar termasuk urusan muamalah di negeri asing. 

Keteguhan Zeni berbuah manis. Pada sebuah kesempatan sebelum acara buka kado, Zeni mempersilakan teman-temannya memulai acara tanpa menunggunya karena dia akan salat Asar. 

“No, we will wait for you Zeni. You can do your prayer first”, jawab salah seorang teman. 

Bahkan saat 30 menit berlalu dan Zeni belum beranjak untuk sholat, si Jail kembali menegur. 

“Zeni, jam berapa kamu harus sholat? Jika memang sudah waktunya pergi saja, don’t bother with anything else. 

“Harusnya jam 13.15, oh ini sudah 13.45, terlambat 30 menit.”

“Then, segera pergi, happy praying!”

Ada juga yang berpesan, “Don’t be selfish Zeni, pray for me too! Don’t pray only for your self.” 


Gambar 4. Zeni saat Wisuda (griyaalquran.id)

Sebelum menginjakkan kakinya di Skotlandia sebagai seorang student, Zeni telah rampung menyetorkan 30 juz hapalan Quran. Namun dengan niat tulus untuk menjaga hafalan dan belajar Qur'an, Zeni mencari guru / ustadz untuk melancarkan hafalannya. Usaha pertama Zeni adalah meminta izin kepada Imam Mesjid Aberdeen untuk menjadi muridnya, namun ditolak karena Imam tidak bersedia mengajar bukan mahram. Akhirnya pencarian itu berujung pada perjumpaan Zeni dengan salah seorang ustadz lulusan Al Azhar Kairo jurusan Hukum Islam yang sempat menjadi imam sholat maghrib. Bertempat di Sir Duncan Rice Library, perpustakaan utama University of Aberdeen, dengan ditemani seorang kawan perempuan, Zeni menyetorkan hapalannya kepada ustadz. Begitulah kesehariannya diisi dengan kesibukan di lab sambil tetap menjaga hapalan dan istiqomah menjadi agen kebaikan, menebar keindahan Islam. 


Gambar 6. University of Aberdeen
Gambar 5. Sir Duncan Library(dok.pribadi)

Hingga saat ini, Zeni yang sudah resmi menjadi doktor dan kembali mengajar di almamaternya, tetap istiqomah mengulang-ulang hafalan sekaligus menerima setoran. Ditambah lagi Zeni kini aktif mengisi webinar bedah buku dan pelatihan kepenulisan. Baginya kegiatan menghafal adalah prioritas dan jika dikelola dengan manajemen waktu dan energi yang baik maka menghafal itu adalah mission possible karena Allah telah menjamin kemudahannya dalam Qur'an surat Al Qomar. Hal ini sejalan dengan pesan Ustaz Aris, guru pertama Zeni di Griya Qur’an, bahwa “Menghapal itu adalah menandatangani kontrak dengan Allah. Bukan yang lainnya."

Gambar 7. Serial Buku Memoar Zeni

Terima kasih untuk Zeni yang telah bersedia menjadi narasumber dalam penulisan artikel berupa 'Ulasan Buku' dengan tema "Perempuan Inspiratif" yang menjadi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April ini dan mengizinkan saya untuk melampirkan fotonya. Terakhir saya kutip tulisan Zeni di Instagramnya tentang perempuan yang selalu menjadi topik hangat di bulan April.

"Menjadi perempuan sepertinya adalah sebuah tantangan, karena selalu menjadi sumber perdebatan. Bercita-cita tinggi disebut terlalu berambisi. Berkarir disebut abai dalam mengurus keluarga. Menjadi ibu rumah tangga disebut menyia-nyiakan gelar akademis. Memilih sendiri dituduh tidak cukup cantik untuk menarik laki-laki. Bersemangat tinggi untuk berpendidikan disebut melakukan hal yang percuma. 

Padahal perempuan adalah sumber kemuliaan. Saat menjadi seorang anak, ia adalah jalan surga bagi sang ayah. Saat menjadi seorang saudara, ia sumber kemuliaan saudara laki-lakinya. Saat menjadi istri, ia menggenapkan agama suaminya. Saat menjadi ibu, ia adalah pencetak generasi penerus bangsa. Bagaimana pun posisinya, apapun pilihannya, tidaklah mengurangi kemuliaannya. 

Karena kemuliaan perempuan membuatnya layaknya seorang ratu. Dan tentu saja seorang ratu harus berpengetahuan. Jadi untuk para perempuan, jangan berhenti untuk selalu memperbaiki kualitas diri. 



  



Thursday, February 25, 2021

Bincang Rindu Kawan Lama



"Hai kamu, kemana ajaaaa, aku dianggurin sampai 4 tahun lamanya"

"Maaf ya, maaf.."

"Kamu gak rindu? Aku yang rinduuu.. berat.. sampai bulukan"

"Hiks, bukan begitu, kerjaanku gak beres2 nih, adaaa aja"

"Ah kamu, kerjaan memang gak akan habis. Aku kan sobat, tempat kamu berbagi rasa, bukan kerjaan" 

"Bahkan kadang berbagi rasa aja aku gak sempat.. [lebay]"

"Waduh kalau kamu gak sempet sharing sama aku aka pikiran dan suara hatimu sendiri, gimana orang lain bisa berbagi rasa denganmu?"

"Iya iya.. aku terlalu banyak alasan"

"Coba deh kamu inget2 lagi pertama kali "nyiptain" aku? Sampai sekarang aja aku masih berasa desir gelora semangatmu setiap posting tulisan baru. Sehari bisa dua kali loh aku tayang."

"Mana mungkin aku lupa. Pulang kuliah aku jadi sering ke comlabs sampai menjelang magrib bahkan beberapa menit sebelum kelas hanya untuk posting tulisan"  

"Haha gak hanya comlabs.. warnet tetangga juga sampai hapal wajah kamu. Warnet di pasar, warnet di pengkolan jalan lamping, warnet dimana aja yang kamu temuin pas kamu lagi pengen nulis. Aku bahagiaaaa banget jadi duniamu" 

"Dan jatah bulananku cepat habis gara2 aku kebelet posting kamu di warnet ya...haha" 

"Kamu nyadar gak sih kalau aku tuh isinya lebih banyak kisah ringan keseharian dan larik rima puisi ya. Ada lah sedikit tulisan tentang kesehatan, review buku, opini, biar aku terlihat lebih berwarna. Meski overall aku isinya banyakan curhatan kamu yang dibuat lebih baku..wkwkwk" 

"Ini memang PR ku sejak lama. Aku harus lebih banyak baca, lebih banyak diskusi, supaya tulisanku lebih berbobot, lebih bermanfaat. Atau bahkan tulisan ku bisa mencetak rupiah...hihi ngarep"

"Ah gak usah muluk2 deh, kamu posting satu puisi pendek aja aku udah seneng, itu artinya kamu bahagia. Bukankah itu alasan kamu dulu mengganti judul blogmu? Coba kamu cerita apa artinya "Meranggas Jejak"? Terdengar aneh sih menurutku"

"Iya sih, terdengar dipaksakan ya? Meranggas itu kan biasanya untuk tumbuhan yang mengalami kematian ya. Salah satu tandanya adalah daunnya yang berguguran. Lalu apa hubungannya dengan jejak?"

"Ishh kumaha kamu teh, itu kan tadi pertanyaan aku. Jadi yang nanya aku atau kamu? [mulai oleng]

"Ya sudah, meski kamu sudah tahu jawabannya, aku bahas lagi ya. Jadi dulu waktu pertama aku buat blog alasannya simple, karena aku suka nulis. Menulis blog itu seakan akan aku sedang monolog di kereta yang melaju dari Milan menuju Vienna melewati Zurich sambil menyaksikan gagahnya pegunungan bergurat salju dan kilaunya danau yang memantulkan pendar mentari, jangan lupa lantunan irama yang membuat suasana makin syahdu [mulai halu]..... eh teruskan ya.. Lalu aku mulai berselancar, mengunjungi blog-blog keren versi aku. Senang rasanya membaca tulisan yang mengalir seperti air, renyah seperti renginang dan manis seperti tiramisu. 

"Terus terus.."

"Terus ya aku mulai belajar benahi kamu, rumahku, blogku sendiri. Aku cari judul yang sesuai karakterku, aku atur layout yang simpel tapi cukup menarik, aku pilih label-label penting, bahkan aku buat header khusus pakai aplikasi gratisan. Lalu waktu berlalu begitu cepat, aku sibuk. Aku kan kuliah, tugasku numpuk kaya cucian piring. Aku jadi lupa menulis. Lalu aku bertemu pria yang blognya jadi top five favoritku, lalu aku semangat lagi menulis. Kami pun menikah dan menulis bersama di satu rumah. Tapi tetep banyakan dia yang nulis.... eh kok jadi kesini ya."

"Gak apa2 diseling iklan...hahaha" 

"Akhirnya pada suatu titik aku berkontemplasi...[catet]. Aku mau blog ku punya arti. Aku bahagia jika satu dari sekian tulisanku memberi setitik manfaat. Kamu pasti tahu kan betapa bahagianya aku saat ada notifikasi email yang ternyata isinya adalah pemberitahuan kalau blogku kedatangan tamu. Satu dua tamu bahkan meminta informasi lebih detail tentang tulisanku. Alhamdulillah..." 

"Jadi itu ya maksud dari 'Meranggas Jejak'?"

"Ya mungkin terkesan maksa sih. Aku ingin meninggalkan bekas2 kebaikan yang terangkum dalam jejak yang mudah diakses siapa saja. Dan jejak itu takkan hilang karena dia sudah bersenyawa dengan waktu, seakan-akan helai daun yang meranggas lalu melekat pada semen yang mengeras. Harusnya sih jejak yang meranggas ya.. Tapi meranggas jejak lebih puitis bagiku.."

"Atau jejak yang akan tetap ada meski kamu yang meranggas?"

"Ya.. atau aku.. yang meranggas" 

"Makasih sudah membangunkan aku, meski nanti mungkin aku akan tidur lama lagi, karena kesibukanmu.. anak-anakmu, prioritasmu, tugasmu.." 

"Maaf ya.. maaf.."

"Kamu tahu, aku bahagia menjadi jejakmu, kelak aku akan tertawa, menangis dan haru bersama anak cucumu dikala mereka menjejak satu demi satu hurufku, meski kamu telah meranggas memeluk kenangan."  



Catatan kecil : 
Tulisan pertama setelah sekian purnama. Dibuat untuk meramaikan challenge Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari. ^_^ 




Sunday, October 30, 2016

"Berpisah" Di Eropa

Hari itu, jam di stasiun Central Amsterdam menunjukkan pukul 10.30. Saya, Mas Trian dan Safa sudah siap naik kereta menuju Stasiun Paris Nord. Tanpa bertanya2, kami langsung naik kereta yang sedang parkir di jalur yang bertuliskan Brussel. Info dari app Eurail, kereta tujuan Paris akan berhenti di Brussel (lupa nama Stasiunnya). Saya duduk di samping Safa, sedangkan ayahnya menyimpan ransel dan koper di kabin. Masih 20 menit menjelang berangkat, Mas Trian meminta izin untuk membeli roti di Albert Heijn (AH), semacam indomaret, di lantai bawah. Tentu saja kami izinkan, kebetulan si bumil juga lapar.

Safa sudah siap dengan buku kecil dan pensil, hobinya adalah menulis selama di kereta. Sekitar 5 menit sejak Mas Trian pergi, tiba-tiba, kereta yang kami tumpangi, bergerak..pelan...bergerak dan kereta terus melaju. Saya bengong, bingung, panik, takut, semua campur jadi satu. Ini kereta mau kemana? Kenapa sudah berangkat? Suami saya manaaa? Dan paling penting bagaimana nasib saya dan Safa? 

Sebelum logika dan nalar bekerja, tentu saja saya nangis dulu, nangis yang diatur supaya Safa gak ikut panik, gak ikutan khawatir kalau ternyata ayahnya 'ketinggalan'. Alhamdulillah untungnya semua dokumen perjalanan ada di tas, di kabin kereta. Mas Trian hanya membawa dompet ketika pergi ke AH. Sambil mengatur nafas saya buka tas, saya baca itinerary, saya buka ticket Eurail kami, saya cek App Eurail yg sudah jauhari terinstall di hape kami masing-masing, saya tanya penumpang di belakang tujuan akhir kereta yang kami tumpangi. Di tengah pencarian itu, saya coba telepon dan WA Mas Trian, tapi belum berhasil. Seketika saya menyesal kenapa tadi saya izinkan Mas Trian beli roti, kenapa kami harus pisah? Berpisah di Eropa... 

Saya coba cocokkan info destinasi dan waktu perjalanan yang tertera di ticket kami dengan data di app Eurail, gimana caranya supaya Mas Trian bisa menyusul, Mas Trian harus naik kereta apa? Padahal tiketnya ada di Saya. Bagaimana kalau Mas Trian gak boleh naik kereta kalau gak punya tiket? Kalau bisa naik dimana kami harus bertemu? Bagaimana jika kereta saya bergerak ke Selatan sedangkan Mas Trian ke Timur? (Haha..lebay). Saya percaya Allah pasti akan menolong kami, entah bagaimana caranya. Dan air mata gak berhenti ngalir...huhuhu.. (usap perut)

Sampai akhirnya ada notifikasi WA di hape saya, dari pak suami yang saya rindukan sekaligus ingin saya marahiiiii. Isinya singkat :"Bunda, maaf ya, kita jadi terpisah". "Bunda jangan panik". "Bunda nanti turun di stasiun Anvers Berchem ya". "Ayah ada di belakang bunda". Nafas saya masih belum teratur, sesak, ingin meledak, tapi saya ingat ada bayi di dalam perut, saya atur nafas kembali. 

Kereta berhenti di suatu stasiun, saya perhatikan tulisan nama stasiunnya, sambil mencocokkan dengan data di App Eurail. Data di App Eurail memang lengkap, tidak hanya informasi nama stasiun yang akan dilewati kereta tapi juga waktu singgah di setiap stasiun. Dan waktu singgah di Stasiun Anvers Berchem itu hanya sekitar 4-5 menit sajahh. 

Kereta lalu berhenti di Stasiun yang saya tuju, dengan segera saya pakai tas ransel besar, lalu mengambil koper, tas backpack, tas jinjing, tangan kanan memegang erat tangan Safa yang baru berhasil Saya bangunkan sesaat sebelum sampai, tangan kiri mengelus janin 6 bulan dalam perut. (Haha.. dramatis pisan). Melihat kami ibu hamil dan anak berwajah Asia yang tampaknya kerepotan, ada 2 orang penumpang yang membantu kami turun ke platform. Gak terbayang apa jadinya jika saya tidak dibantu oleh mereka, karena saya, dengan segenap babawaan harus cepat2 keluar dalam waktu yang sangat tidak manusiawi untuk singgah.

Lalu kami menunggu di kursi peron sambil memerhatikan setiap kereta yang berhenti dan memastikan kereta mengangkut pimpinan perjalanan kami yang ketinggalan di Amsterdam. Hiks

Akhirnya satu kereta berhenti, salah satu pintunya terbuka tepat di hadapan kami. Satu persatu penumpang keluar hingga muncullah sosok Sang Ayah. Dia tersenyum, menghampiri kami, bergegas memeluk kami sebelum saya marahh. Saya balik memeluknya  sambil berpesan penting, "Nanti-nanti kita gak boleh berpisah, Ayah, walau hanya satu detik". Bumil lebay..

Drama pun usai.. nafas saya kembali teratur. Alhamdulillah kami bisa berkumpul lagi.

Kami melanjutkan perjalanan dengan kereta lain menuju Paris. 

Tiba-tiba Mas Trian bertanya "Bun, keresek yang isinya oleh2 mana ya? 

Saya cari.. gak ketemu.. sepertinya tertinggal di kabin kereta tadi yang menuju Brussel.

Dan nafas saya mulai tidak teratur lagi..  

-The End- 

Thursday, August 27, 2015

Cerita Hamil Dan Melahirkan Di Aberdeen

Cerita ini saya bagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama berjudul “Hamil dan Pemeriksaan Rutin”, bagian kedua berjudul “Saat Melahirkan Tiba” dan bagian ketiga berjudul “Senangnya Punya Health Visitor”. Tulisan ini saya tujukan untuk teman-teman yang diberi anugerah kehamilan di Aberdeen, semoga cerita pengalaman ini bisa bermanfaat. Dan juga untuk Aidan, mujahid yang saya cintai. “Bunda yakin kisah ini kelak akan sampai padamu, Nak.”

Bagian pertama : Hamil dan Pemeriksaan Rutin

7 September 2014 pukul 12 siang adalah hari pertama kami di Aberdeen. Dingin, itulah kesan pertama saya ketika datang. Jelas saja saat itu di Aberdeen sedang musim gugur. Dijemput oleh seorang teman, kami lalu meluncur ke flat yang akan menjadi rumah kami selama setahun. Keesokan harinya secara bertahap kami mulai menjalani aktivitas rutin.

27 September 2014 adalah hari pertama saya haid dan ternyata itu menjadi haid yang terakhir karena di bulan Oktober tamu bulanan itu tidak muncul lagi. Test Pack menunjukkan 2 garis merah. Alhamdulillah saya positif hamil. Saya lalu menelepon GP dan memberitahu bahwa saya terlambat datang bulan. Mereka kemudian membuat jadwal pertemuan saya dengan midwife. Oya untuk membuat appointment pastikan sebelumnya kita (dan keluarga) sudah terdaftar di GP. Kami sendiri daftar ke Woodside Medical Centre (GP yang paling dekat dari rumah) sekitar seminggu setelah tiba di Aberdeen.

1 Desember 2014 awal jumpa dengan midwife di GP. Sarah Humphrey namanya. Sarah mewawancarai saya dengan beberapa pertanyaan seputar data diri dan keluarga serta riwayat kehamilan sebelumnya. Usia kandungan saya saat itu berdasarkan perhitungannya adalah 9w 1d. Usai wawancara saya dibekali buku panduan kehamilan “Ready, Steady, Baby” dan semacam buku medical record pre dan post natal yang memuat segala record kesehatan saya selama hamil dan melahirkan. Tak lupa Sarah menuliskan jadwal saya ke GP untuk konsultasi dengan midwife serta kapan saya harus ke Aberdeen Maternity Hospital untuk scan (USG).

ready steady baby

15 Desember 2014 adalah appointment kedua saya dengan Sarah. Darah dan urin saya diperiksa. Parameter yang diperiksa adalah Full Blood Count, Virology, HBa1C, HIV, Rubella, Sifilis, Hep-B, Sickle Cell Anaemia, Thalassemia dan pH urin. Ternyata yang diperiksa cukup banyak ya. Hasil tes darah tidak diserahkan kepada pasien, jadi pasien hanya akan dihubungi jika ada yang ganjil dengan hasilnya. Saya sendiri sempat dihubungi satu kali karena Hb saya rendah pada pemeriksaan darah ketiga di rumah sakit. Sejak saat itu setiap pertemuan dengan midwife, saya diminta untuk mengumpulkan urin untuk diperiksa pH nya. Terhitung sejak 1 Desember hingga melahirkan, total pertemuan saya dengan midwife hanya 7 kali. Alhamdulillah selama kehamilan ini saya sehat dan tidak sampai ‘ngidam’, bahkan masih bisa keliling 9 negara Eropa ketika usia kandungan 28 minggu. Alhamdulillah..



Tuesday, January 17, 2012

Sosok Yang Membuatku Cemburu

Pertama kali tahu namanya ketika mentoring di SMA. Beberapa kali, oleh teteh mentor yang berbeda, namanya disebut. Namanya sederhana, seperti nama orang Sunda, ada pengulangan pada nama panjang. Yoyoh Yusroh, sederhana bukan?

Belum pernah saya bertemu dengannya, bahkan mencoba mencari tahu gambar wajahnya di internet pun tidak, sampai saya membaca buku yang satu ini “Yoyoh Yusroh, Mutiara Yang Telah Tiada”.

Membeli buku ini bukan tidak disengaja. Pada suatu pengajian, saya diingatkan lagi tentang kisah ummi, panggilan ustadzah yoyoh. Katanya ummi ini sibuk sekali. Dia adalah anggota dewan, pengurus yayasan sosial, murobbiyah, dan ibu dari 13 orang anak. Sekalipun agendanya padat, harus berda’wah dan mengunjungi banyak tempat, tapi makannya selalu terjaga. Jika ia diminta memilih masakan padang atau makanan siap saji, maka dia memilih masakan padang. Soda pun sangat dihindari. Alasannya adalah karena masakan siap saji, makanan yang mengandung msg, dan soda berbahaya bagi rahim perempuan, padahal rahim adalah tempat bersemayamnya calon manusia yang akan lahir ke dunia. Selalu saja ada cerita yang berbeda dari ustadzah yoyoh, dan semua cerita membuatku kagum. Karena itu, saat pergi ke toko buku, buku ini menjadi salah satu yang terpilih.

Monday, May 17, 2010

Jahe dan Khasiat Anti Bakteri

Jahe adalah rempah-rempah yang banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Tanaman ini selain digunakan sebagai bumbu dapur juga berkhasiat sebagai obat. Ciri khas jahe terdapat pada aroma dan rasanya yang tajam. Aroma pada jahe disebabkan oleh adanya minyak atsiri terutama golongan seskuiterpenoid sebanyak lebih dari 3 %. Sedangkan rasa yang pedas disebabkan oleh adanya senyawa gingerol dan shogaol. Di Indonesia, jahe diracik menjadi suatu minuman penghangat badan yang dikenal dengan nama wedang jahe. Minuman ini sangat bermanfaat untuk mengusir dingin terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pegunungan.

Zingiberis officinale, nama latin tanaman jahe merupakan tanaman yang tumbuh tegak dan merumpun dengan tinggi mencapai 30 cm – 1m. Jahe biasanya ditanam pada dataran rendah sampai dataran tinggi (daerah subtropis dan tropis) pada ketinggian 1500 m diatas permukaan laut. Menurut Farmakope Belanda, Zingiber rhizoma (rimpang jahe) yang berupa umbi Zingiber officinale mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering dipakai sebagi rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak dipakai di dunia.



Bijak Mengkonsumsi Obat Anti Nyeri

Pemahaman bahwa obat akan selalu bermanfaat baik bagi manusia kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun adalah salah. Kenyataan menunjukkan bahwa obat memiliki dua sisi berlawanan. Di satu sisi ia dapat memberi manfaat dan di sisi yang lain dapat membahayakan bagi penggunanya. Obat hanya akan memberi manfaat apabila digunakan secara tepat. Pada dosis yang dianjurkan, obat memiliki dua jenis efek yaitu efek yang diinginkan atau efek terapi dan efek yang tidak diinginkan yaitu efek samping. Semakin tinggi dosis, efek samping akan lebih terasa namun tidak semua pengguna obat merasakan efek tersebut. Hal ini bergantung pada kepekaan pengguna.

Obat anti nyeri merupakan obat yang ditujukan untuk mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri, misalnya pada sakit kepala, sakit kepala pada migren, sakit gigi, nyeri otot, nyeri haid (dismenorea primer). Beberapa obat anti nyeri atau analgesik memiliki khasiat sebagai penurun demam (antipiretik) dan mengurangi proses peradangan (anti inflamasi). Obat ini digolongkan sebagai obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Obat anti nyeri yang beredar sebagai obat bebas adalah untuk sakit yang bersifat ringan, sedangkan untuk sakit yang berat (misalnya sakit karena batu empedu, kanker) perlu menggunakan jenis obat keras yang membutuhkan pemeriksaan dokter.

The Hidden Face Of Iran

Buku yang “recommended” ini, kata 3an, memang memikat luar biasa. Novel ini merupakan catatan perjalanan keluarga Irlandia berkewarganegaraan Amerika Serikat untuk mencari pembantu rumah tangganya sewaktu mereka tinggal 10 tahun di Teheran. Terence Ward dengan sangat apik menggambarkan perjalanannya yang penuh petualangan bersama kedua orang tuanya, Donna dan Patrick, serta ketiga saudara laki-lakinya, Kevin, Chris dan Richard. Dibesarkan di Iran, pada tahun 1960an, Terrence Ward dan seluruh anggota keluarganya tidak mampu melupakan ikatan erat yang menyatukan mereka dengan Hassan, sang koki keluarga, pengurus rumah tangga dan pemandu budaya mereka.

Setelah meninggalkan Iran selama 30 tahun, Ward kembali ke negara itu bersama seluruh anggota keluarganya untuk melakukan pencarian terhadap Hassan. Masa lalu yang indah yang mereka habiskan selama 10 tahun di negara Khomeini itu benar-benar menyentuh. Kasih sayang yang terjalin antara keluarga “barat”, yang notabene dianggap sebagai sosok jahat dibelakang Shah Pahlavi, digambarkan dengan sempurna. Bagaimana tidak, setelah berselang 30 tahun mereka bertekad mencari Hassan dan keluarganya di suatu desa tak terkenal di negara Iran yang berada dalam instabilitas politik pasca revolusi dan perang. Sinting, begitulah kesan pemandu sewaan mereka, Avo, selama perjalanan panjang itu.

Bila Perempuan Tidak Ada Dokter

Di dunia ini, ada jutaan perempuan yang hidup di kota-kota dan desa-desa ‘yang tidak ada dokter’ atau kalaupun ada, layanan kesehatan di daerah itu umumnya tidak terjangkau. Oleh karena itu banyak di antara mereka yang menderita, bahkan banyak pula yang meninggal, hanya karena tidak terjangkaunya layanan perawatan dan pengobatan, serta tidak tersedianya informasi yang memadai tentang seluk beluk kesehatan perempuan. Untuk merekalah buku ini ditulis. Bagaimanakah faktanya di Indonesia ?

Lalu mengapa PEREMPUAN? Jawaban dari pertanyaan ini langsung anda dapatkan di Bab I, karena “kesehatan perempuan adalah persoalan masyarakat”. Bila seorang perempuan sehat, ia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan pekerjaannya sehari-hari, memenuhi banyak peran yang dimilikinya dalam keluarga dan masyarakat serta membangun hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Setiap perempuan mempunyai hak atas perawatan kesehatan yang utuh sepanjang hidupnya, tidak hanya sebatas perannya sebagai istri dan ibu. Selain itu, kesehatan seorang perempuan bukan saja dipengaruhi oleh keunikan ragawi semata, melainkan juga dipengaruhi oleh seluruh kondisi sosial, kebudayaan dan ekonomi dimana dia berada. Intinya, jika kesehatan perempuan membaik, semua orang yakni perempuan itu sendiri, keluarganya, serta masyarakatnya akan menikmati manfaatnya.