![]() |
| Gambar 1. Bala-bala favoritku |
![]() |
| Gambar 2. Jenis gorengan di dunia |
![]() |
| Gambar 4. Proses memasak bala-bala cetak |
![]() |
| Gambar 1. Bala-bala favoritku |
![]() |
| Gambar 2. Jenis gorengan di dunia |
![]() |
| Gambar 4. Proses memasak bala-bala cetak |
Ramah, bersahaja, tidak banyak bicara, itulah kesan pertama saat bertemu dengannya. Kami melaju di bis yang sama menuju rumah salah satu member pengajian As Sakinah di kota Aberdeen, Skotlandia. Pengajian yang dilakukan sebulan sekali ini adalah wahana temu kangen para muslimah Indonesia baik yang telah menjadi permanent resident maupun para mahasiswa yang sedang studi di kota yang dikenal dengan sebutan kota Granit. Saya yang berstatus sebagai istri mahasiswa tentu tidak akan melewatkan agenda bulanan ini, karena absen dari pengajian artinya melewatkan kesempatan bersilaturahmi, melewatkan kesempatan mendapat ilmu tentang islam dan tentunya melewatkan sajian menu kampung halaman yang selalu membuat kangen para perantau.
Zeni Rahmawati, demikian nama lengkapnya. Beliau dikenalkan oleh Mbak Nur, pengurus As Sakinah, saat membuka acara pengajian. Zeni adalah seorang mahasiswa PhD di University of Aberdeen. Saat itu, Zeni mendapat kehormatan untuk sharing materi keislaman. Nasehatnya mengalir bagai air, materinya sederhana namun disajikan dengan gaya bahasa yang membuat jamaah terpikat. Semakin terpikat lagi setelah Mbak Nur memberi tahu bahwa Zeni adalah seorang penghapal Qur’an. Tiga puluh juz telah melekat erat di dadanya.
Sejak pertemuan pertama di As Sakinah, pertemuan kami berikutnya bisa dihitung jari. Beliau sibuk dengan penelitian S3, saya juga sibuk mempersiapkan agenda kepulangan kembali ke Indonesia karena masa studi suami hampir usai. Sungguh andai saya diberi kesempatan tinggal lebih lama di Aberdeen, saya akan sering jumpa dengannya, mendengar tausiyahnya dan menyetorkan hapalan saya yang jalan di tempat.
Meski sudah kembali ke tanah air, saya masih bergabung dengan WAG As Sakinah. Mendapat informasi tentang kajian As Sakinah atau info lain tentang Aberdeen membuat rindu saya akan Aberdeen dan kenangan di dalamnya terobati. Suatu hari Zeni meminta bantuan untuk mengisi kuesioner tentang cover buku barunya. Beliau akan merilis buku pertama yang berisi kumpulan tulisannya di Facebook berupa pengalaman beliau selama tinggal di Aberdeen. Dan tentu saja setelah buku itu rilis, saya termasuk pemesan yang tak sabar untuk membaca kisahnya.
![]() |
| Gambar 1. Pilihan cover buku |
Bukan judul bukunya yang menarik perhatian saya meski tulisannya jelas-jelas eye catching. Tapi justru tagline di bawah judul yang membuat saya merasa bahagia telah membelinya. “Memoar Perjalanan Seorang Penghafal Qur’an, Kandidat Doktor Bidang Kimia di Skotlandia”, demikian tulisnya. Ada perasaan kagum namun ada pula rasa minder, sudah lah doktor, bidang kimia, hapal Qur’an pula. Tahu perumpaan remah rengginang kan ya? Maka remah rengginang itu saya, dan bintang gemilang itu Zeni.
![]() |
| Gambar 2. Buku Diary Sang Pemimpi |
Kisah yang diceritakan di buku terbitan Nea Publishing itu tidak ditulis secara runut, satu sama lain ada yang saling berkaitan namun ada pula yang berdiri sendiri. Membacanya seperti sedang membaca diary, seru, personal, tapi sarat dengan hikmah. Diawali dengan cerita ketidaksengajaan Zeni bergabung dengan Griya Qur’an, sebuah lembaga tahsin-tahfizh di Surabaya yang menjadi awal mula lahirnya cita-cita Zeni untuk menjadi seorang hafizhah. Lalu lika liku seleksi beasiswa doktoral hingga akhirnya pilihan studi berlabuh di University of Aberdeen. Serta manis pahit perjuangan selama menjalani PhD sembari tetap mempertahankan hapalan Al Qur’an.
Perempuan Sendiri
Fragmen yang dominan dari buku ini adalah kisah tentang keseharian Zeni bersama teman-teman labnya yaitu para anggota grup penelitian Surface Chemistry and Catalysis. Zeni adalah satu-satunya perempuan di antara para pria bule tampan lagi pintar itu. Diceritakan pada mulanya Zeni merasa tidak nyaman, tidak berani, tidak bebas. Tapi siapa sangka seiring dengan berjalannya waktu, perkenalan yang kemudian berkembang menjadi persahabatan itu menjadi jalan bagi Zeni untuk mengenalkan indahnya Islam.
Zeni memberi nama julukan yang lucu kepada 5 teman pria nya itu. Ada Si Jail sang teman diskusi, Si Ganteng yang tatapannya bisa meluberkan hapalan Qur’an berlembar-lembar, Si Unyu yang selalu tersenyum menawan, Si Raksasa yang berbadan tinggi besar dan sangat perhatian dan Si Genius yang cerdas namun kadang menakutkan. Dengan piawai Zeni mendeskripsikan karakter kelima teman prianya itu. Pembaca diajak untuk mereguk hikmah warna-warni sifat manusia, mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Tidak semata-mata Allah kirimkan orang-orang di sekitar kita melainkan Allah mempunyai maksud dan tujuan, yang andai kita dengan tulus menjalankannya maka akan kita temukan mutiara hikmah yang bernilai sebagai bekal perjalanan. Tidak lah semata-mata Allah menempatkan Zeni di Aberdeen, atau saya di sini dan kamu disana melainkan pasti ada misi kebaikan yang Allah titipkan bukan? Dan disanalah Zeni berhasil menjalankan misinya, sebagai agen muslim yang baik, menjadi da’i sebelum apapun, ‘Nahnu du’at qabla kulli syai’in’.
![]() |
| Gambar 3. Zeni dan teman-teman satu lab (IG rahmawati_zeni) |
Hobi berdiskusi
Di sub judul Bravest Man diceritakan bahwa Si Jail paling sering berdiskusi dengan Zeni tentang Islam. Dari mulai prinsip pergaulan, aturan mencari pasangan, hingga masalah takdir. Memang prinsip Zeni sebagai muslimah yang tidak mau bersalaman dan berpacaran merupakan sesuatu yang unik, out of the box, berbeda dengan budaya disana sehingga teman-temannya tertarik untuk membahasnya. Meski berbeda pendapat mereka tidak pernah heboh menyalahkan atau mencoba membenturkan pendapat masing-masing.
Ini adalah salah satu catatan teman Zeni ketika ia meminta pendapat tentangnya.Bagi Zeni dan muslimah lain yang menjadi minoritas, upaya menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya tidak mudah. Jika mereka memandang jilbab adalah penindasan, maka sebenarnya jilbab adalah kebebasan. Jika mereka mendapat gambaran dari media bahwa aturan Islam itu adalah bentuk pengekangan, maka sebenarnya aturan itu adalah bentuk perlindungan.
Ada lagi kisah tentang Si Ganteng yang mengundang teman-temannya makan siang untuk merayakan kelulusan. Mereka setuju untuk bertemu di The Bobbin, salah satu bar di kota Aberdeen. Hanya Zeni yang tidak bisa ikut.
“How about lunch today? The only issue is how about Zeni”, Si Imut mengawali diskusi.
“The closest place and have enough space for ten people is The Bobbin”, timpal Supervisor.
“But I cannot go there”, tegas Zeni.
“You can order hot chocolate and vegetarian food”, timpal Ganteng yang paham bahwa Zeni hanya memilih makanan ‘halal’
“I cannot understand. You don’t have to drink alcohol and you can eat vegetarian or seafood. Why do you still refuse to go?”, keluh Cicik, salah satu teman perempuan Zeni.
“It’s not about the food, it’s about the place”, terang Zeni.
Bar tidak identik dengan hal yang negatif menurut budaya disana tapi disinilah prinsip Zeni diuji. Meski Ganteng adalah teman baik, tapi jika ajakannya bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakini, maka tidak ada tawar menawar. Alih-alih Ganteng menjadi ‘pundung’, sebagai laki-laki gentleman dia malah menawarkan Zeni untuk pergi ke kedai kopi setelah makan siang. Satu hikmah yang bisa dipetik adalah sedekat apa pun hubungan kita dengan seseorang, jangan sampai ragu atau mudah menukar prinsip. Insyaa Allah keteguhan akan menjadi syarat terbukanya jalan keluar termasuk urusan muamalah di negeri asing.
Keteguhan Zeni berbuah manis. Pada sebuah kesempatan sebelum acara buka kado, Zeni mempersilakan teman-temannya memulai acara tanpa menunggunya karena dia akan salat Asar.
“No, we will wait for you Zeni. You can do your prayer first”, jawab salah seorang teman.
Bahkan saat 30 menit berlalu dan Zeni belum beranjak untuk sholat, si Jail kembali menegur.
“Zeni, jam berapa kamu harus sholat? Jika memang sudah waktunya pergi saja, don’t bother with anything else.
“Harusnya jam 13.15, oh ini sudah 13.45, terlambat 30 menit.”
“Then, segera pergi, happy praying!”
Ada juga yang berpesan, “Don’t be selfish Zeni, pray for me too! Don’t pray only for your self.”
![]() |
| Gambar 4. Zeni saat Wisuda (griyaalquran.id) |
Sebelum menginjakkan kakinya di Skotlandia sebagai seorang student, Zeni telah rampung menyetorkan 30 juz hapalan Quran. Namun dengan niat tulus untuk menjaga hafalan dan belajar Qur'an, Zeni mencari guru / ustadz untuk melancarkan hafalannya. Usaha pertama Zeni adalah meminta izin kepada Imam Mesjid Aberdeen untuk menjadi muridnya, namun ditolak karena Imam tidak bersedia mengajar bukan mahram. Akhirnya pencarian itu berujung pada perjumpaan Zeni dengan salah seorang ustadz lulusan Al Azhar Kairo jurusan Hukum Islam yang sempat menjadi imam sholat maghrib. Bertempat di Sir Duncan Rice Library, perpustakaan utama University of Aberdeen, dengan ditemani seorang kawan perempuan, Zeni menyetorkan hapalannya kepada ustadz. Begitulah kesehariannya diisi dengan kesibukan di lab sambil tetap menjaga hapalan dan istiqomah menjadi agen kebaikan, menebar keindahan Islam.
![]() |
| Gambar 6. University of Aberdeen |
| Gambar 5. Sir Duncan Library(dok.pribadi) |
Hingga saat ini, Zeni yang sudah resmi menjadi doktor dan kembali mengajar di almamaternya, tetap istiqomah mengulang-ulang hafalan sekaligus menerima setoran. Ditambah lagi Zeni kini aktif mengisi webinar bedah buku dan pelatihan kepenulisan. Baginya kegiatan menghafal adalah prioritas dan jika dikelola dengan manajemen waktu dan energi yang baik maka menghafal itu adalah mission possible karena Allah telah menjamin kemudahannya dalam Qur'an surat Al Qomar. Hal ini sejalan dengan pesan Ustaz Aris, guru pertama Zeni di Griya Qur’an, bahwa “Menghapal itu adalah menandatangani kontrak dengan Allah. Bukan yang lainnya."
![]() |
| Gambar 7. Serial Buku Memoar Zeni |
Terima kasih untuk Zeni yang telah bersedia menjadi narasumber dalam penulisan artikel berupa 'Ulasan Buku' dengan tema "Perempuan Inspiratif" yang menjadi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April ini dan mengizinkan saya untuk melampirkan fotonya. Terakhir saya kutip tulisan Zeni di Instagramnya tentang perempuan yang selalu menjadi topik hangat di bulan April.
"Menjadi perempuan sepertinya adalah sebuah tantangan, karena selalu menjadi sumber perdebatan. Bercita-cita tinggi disebut terlalu berambisi. Berkarir disebut abai dalam mengurus keluarga. Menjadi ibu rumah tangga disebut menyia-nyiakan gelar akademis. Memilih sendiri dituduh tidak cukup cantik untuk menarik laki-laki. Bersemangat tinggi untuk berpendidikan disebut melakukan hal yang percuma.
Padahal perempuan adalah sumber kemuliaan. Saat menjadi seorang anak, ia adalah jalan surga bagi sang ayah. Saat menjadi seorang saudara, ia sumber kemuliaan saudara laki-lakinya. Saat menjadi istri, ia menggenapkan agama suaminya. Saat menjadi ibu, ia adalah pencetak generasi penerus bangsa. Bagaimana pun posisinya, apapun pilihannya, tidaklah mengurangi kemuliaannya.
Karena kemuliaan perempuan membuatnya layaknya seorang ratu. Dan tentu saja seorang ratu harus berpengetahuan. Jadi untuk para perempuan, jangan berhenti untuk selalu memperbaiki kualitas diri.
"Maaf ya, maaf.."
"Kamu gak rindu? Aku yang rinduuu.. berat.. sampai bulukan"
"Hiks, bukan begitu, kerjaanku gak beres2 nih, adaaa aja"
"Ah kamu, kerjaan memang gak akan habis. Aku kan sobat, tempat kamu berbagi rasa, bukan kerjaan"
"Bahkan kadang berbagi rasa aja aku gak sempat.. [lebay]"
"Waduh kalau kamu gak sempet sharing sama aku aka pikiran dan suara hatimu sendiri, gimana orang lain bisa berbagi rasa denganmu?"
"Iya iya.. aku terlalu banyak alasan"
"Coba deh kamu inget2 lagi pertama kali "nyiptain" aku? Sampai sekarang aja aku masih berasa desir gelora semangatmu setiap posting tulisan baru. Sehari bisa dua kali loh aku tayang."
"Mana mungkin aku lupa. Pulang kuliah aku jadi sering ke comlabs sampai menjelang magrib bahkan beberapa menit sebelum kelas hanya untuk posting tulisan"
"Haha gak hanya comlabs.. warnet tetangga juga sampai hapal wajah kamu. Warnet di pasar, warnet di pengkolan jalan lamping, warnet dimana aja yang kamu temuin pas kamu lagi pengen nulis. Aku bahagiaaaa banget jadi duniamu"
"Dan jatah bulananku cepat habis gara2 aku kebelet posting kamu di warnet ya...haha"
"Kamu nyadar gak sih kalau aku tuh isinya lebih banyak kisah ringan keseharian dan larik rima puisi ya. Ada lah sedikit tulisan tentang kesehatan, review buku, opini, biar aku terlihat lebih berwarna. Meski overall aku isinya banyakan curhatan kamu yang dibuat lebih baku..wkwkwk"
"Ini memang PR ku sejak lama. Aku harus lebih banyak baca, lebih banyak diskusi, supaya tulisanku lebih berbobot, lebih bermanfaat. Atau bahkan tulisan ku bisa mencetak rupiah...hihi ngarep"
"Ah gak usah muluk2 deh, kamu posting satu puisi pendek aja aku udah seneng, itu artinya kamu bahagia. Bukankah itu alasan kamu dulu mengganti judul blogmu? Coba kamu cerita apa artinya "Meranggas Jejak"? Terdengar aneh sih menurutku"
"Iya sih, terdengar dipaksakan ya? Meranggas itu kan biasanya untuk tumbuhan yang mengalami kematian ya. Salah satu tandanya adalah daunnya yang berguguran. Lalu apa hubungannya dengan jejak?"
"Ishh kumaha kamu teh, itu kan tadi pertanyaan aku. Jadi yang nanya aku atau kamu? [mulai oleng]
"Ya sudah, meski kamu sudah tahu jawabannya, aku bahas lagi ya. Jadi dulu waktu pertama aku buat blog alasannya simple, karena aku suka nulis. Menulis blog itu seakan akan aku sedang monolog di kereta yang melaju dari Milan menuju Vienna melewati Zurich sambil menyaksikan gagahnya pegunungan bergurat salju dan kilaunya danau yang memantulkan pendar mentari, jangan lupa lantunan irama yang membuat suasana makin syahdu [mulai halu]..... eh teruskan ya.. Lalu aku mulai berselancar, mengunjungi blog-blog keren versi aku. Senang rasanya membaca tulisan yang mengalir seperti air, renyah seperti renginang dan manis seperti tiramisu.
"Terus terus.."
"Terus ya aku mulai belajar benahi kamu, rumahku, blogku sendiri. Aku cari judul yang sesuai karakterku, aku atur layout yang simpel tapi cukup menarik, aku pilih label-label penting, bahkan aku buat header khusus pakai aplikasi gratisan. Lalu waktu berlalu begitu cepat, aku sibuk. Aku kan kuliah, tugasku numpuk kaya cucian piring. Aku jadi lupa menulis. Lalu aku bertemu pria yang blognya jadi top five favoritku, lalu aku semangat lagi menulis. Kami pun menikah dan menulis bersama di satu rumah. Tapi tetep banyakan dia yang nulis.... eh kok jadi kesini ya."
"Gak apa2 diseling iklan...hahaha"
"Akhirnya pada suatu titik aku berkontemplasi...[catet]. Aku mau blog ku punya arti. Aku bahagia jika satu dari sekian tulisanku memberi setitik manfaat. Kamu pasti tahu kan betapa bahagianya aku saat ada notifikasi email yang ternyata isinya adalah pemberitahuan kalau blogku kedatangan tamu. Satu dua tamu bahkan meminta informasi lebih detail tentang tulisanku. Alhamdulillah..."
"Jadi itu ya maksud dari 'Meranggas Jejak'?"
"Ya mungkin terkesan maksa sih. Aku ingin meninggalkan bekas2 kebaikan yang terangkum dalam jejak yang mudah diakses siapa saja. Dan jejak itu takkan hilang karena dia sudah bersenyawa dengan waktu, seakan-akan helai daun yang meranggas lalu melekat pada semen yang mengeras. Harusnya sih jejak yang meranggas ya.. Tapi meranggas jejak lebih puitis bagiku.."
"Atau jejak yang akan tetap ada meski kamu yang meranggas?"
"Ya.. atau aku.. yang meranggas"
"Makasih sudah membangunkan aku, meski nanti mungkin aku akan tidur lama lagi, karena kesibukanmu.. anak-anakmu, prioritasmu, tugasmu.."
"Maaf ya.. maaf.."
"Kamu tahu, aku bahagia menjadi jejakmu, kelak aku akan tertawa, menangis dan haru bersama anak cucumu dikala mereka menjejak satu demi satu hurufku, meski kamu telah meranggas memeluk kenangan."
Hari itu, jam di stasiun Central Amsterdam menunjukkan pukul 10.30. Saya, Mas Trian dan Safa sudah siap naik kereta menuju Stasiun Paris Nord. Tanpa bertanya2, kami langsung naik kereta yang sedang parkir di jalur yang bertuliskan Brussel. Info dari app Eurail, kereta tujuan Paris akan berhenti di Brussel (lupa nama Stasiunnya). Saya duduk di samping Safa, sedangkan ayahnya menyimpan ransel dan koper di kabin. Masih 20 menit menjelang berangkat, Mas Trian meminta izin untuk membeli roti di Albert Heijn (AH), semacam indomaret, di lantai bawah. Tentu saja kami izinkan, kebetulan si bumil juga lapar.
Safa sudah siap dengan buku kecil dan pensil, hobinya adalah menulis selama di kereta. Sekitar 5 menit sejak Mas Trian pergi, tiba-tiba, kereta yang kami tumpangi, bergerak..pelan...bergerak dan kereta terus melaju. Saya bengong, bingung, panik, takut, semua campur jadi satu. Ini kereta mau kemana? Kenapa sudah berangkat? Suami saya manaaa? Dan paling penting bagaimana nasib saya dan Safa?
Sebelum logika dan nalar bekerja, tentu saja saya nangis dulu, nangis yang diatur supaya Safa gak ikut panik, gak ikutan khawatir kalau ternyata ayahnya 'ketinggalan'. Alhamdulillah untungnya semua dokumen perjalanan ada di tas, di kabin kereta. Mas Trian hanya membawa dompet ketika pergi ke AH. Sambil mengatur nafas saya buka tas, saya baca itinerary, saya buka ticket Eurail kami, saya cek App Eurail yg sudah jauhari terinstall di hape kami masing-masing, saya tanya penumpang di belakang tujuan akhir kereta yang kami tumpangi. Di tengah pencarian itu, saya coba telepon dan WA Mas Trian, tapi belum berhasil. Seketika saya menyesal kenapa tadi saya izinkan Mas Trian beli roti, kenapa kami harus pisah? Berpisah di Eropa...
Saya coba cocokkan info destinasi dan waktu perjalanan yang tertera di ticket kami dengan data di app Eurail, gimana caranya supaya Mas Trian bisa menyusul, Mas Trian harus naik kereta apa? Padahal tiketnya ada di Saya. Bagaimana kalau Mas Trian gak boleh naik kereta kalau gak punya tiket? Kalau bisa naik dimana kami harus bertemu? Bagaimana jika kereta saya bergerak ke Selatan sedangkan Mas Trian ke Timur? (Haha..lebay). Saya percaya Allah pasti akan menolong kami, entah bagaimana caranya. Dan air mata gak berhenti ngalir...huhuhu.. (usap perut)
Sampai akhirnya ada notifikasi WA di hape saya, dari pak suami yang saya rindukan sekaligus ingin saya marahiiiii. Isinya singkat :"Bunda, maaf ya, kita jadi terpisah". "Bunda jangan panik". "Bunda nanti turun di stasiun Anvers Berchem ya". "Ayah ada di belakang bunda". Nafas saya masih belum teratur, sesak, ingin meledak, tapi saya ingat ada bayi di dalam perut, saya atur nafas kembali.
Kereta berhenti di suatu stasiun, saya perhatikan tulisan nama stasiunnya, sambil mencocokkan dengan data di App Eurail. Data di App Eurail memang lengkap, tidak hanya informasi nama stasiun yang akan dilewati kereta tapi juga waktu singgah di setiap stasiun. Dan waktu singgah di Stasiun Anvers Berchem itu hanya sekitar 4-5 menit sajahh.Kereta lalu berhenti di Stasiun yang saya tuju, dengan segera saya pakai tas ransel besar, lalu mengambil koper, tas backpack, tas jinjing, tangan kanan memegang erat tangan Safa yang baru berhasil Saya bangunkan sesaat sebelum sampai, tangan kiri mengelus janin 6 bulan dalam perut. (Haha.. dramatis pisan). Melihat kami ibu hamil dan anak berwajah Asia yang tampaknya kerepotan, ada 2 orang penumpang yang membantu kami turun ke platform. Gak terbayang apa jadinya jika saya tidak dibantu oleh mereka, karena saya, dengan segenap babawaan harus cepat2 keluar dalam waktu yang sangat tidak manusiawi untuk singgah.
Lalu kami menunggu di kursi peron sambil memerhatikan setiap kereta yang berhenti dan memastikan kereta mengangkut pimpinan perjalanan kami yang ketinggalan di Amsterdam. Hiks
Akhirnya satu kereta berhenti, salah satu pintunya terbuka tepat di hadapan kami. Satu persatu penumpang keluar hingga muncullah sosok Sang Ayah. Dia tersenyum, menghampiri kami, bergegas memeluk kami sebelum saya marahh. Saya balik memeluknya sambil berpesan penting, "Nanti-nanti kita gak boleh berpisah, Ayah, walau hanya satu detik". Bumil lebay..
Drama pun usai.. nafas saya kembali teratur. Alhamdulillah kami bisa berkumpul lagi.
Kami melanjutkan perjalanan dengan kereta lain menuju Paris.
Tiba-tiba Mas Trian bertanya "Bun, keresek yang isinya oleh2 mana ya?
Saya cari.. gak ketemu.. sepertinya tertinggal di kabin kereta tadi yang menuju Brussel.
Dan nafas saya mulai tidak teratur lagi..
-The End-
Jahe adalah rempah-rempah yang banyak digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Tanaman ini selain digunakan sebagai bumbu dapur juga berkhasiat sebagai obat. Ciri khas jahe terdapat pada aroma dan rasanya yang tajam. Aroma pada jahe disebabkan oleh adanya minyak atsiri terutama golongan seskuiterpenoid sebanyak lebih dari 3 %. Sedangkan rasa yang pedas disebabkan oleh adanya senyawa gingerol dan shogaol. Di Indonesia, jahe diracik menjadi suatu minuman penghangat badan yang dikenal dengan nama wedang jahe. Minuman ini sangat bermanfaat untuk mengusir dingin terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pegunungan.
Pemahaman bahwa obat akan selalu bermanfaat baik bagi manusia kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun adalah salah. Kenyataan menunjukkan bahwa obat memiliki dua sisi berlawanan. Di satu sisi ia dapat memberi manfaat dan di sisi yang lain dapat membahayakan bagi penggunanya. Obat hanya akan memberi manfaat apabila digunakan secara tepat. Pada dosis yang dianjurkan, obat memiliki dua jenis efek yaitu efek yang diinginkan atau efek terapi dan efek yang tidak diinginkan yaitu efek samping. Semakin tinggi dosis, efek samping akan lebih terasa namun tidak semua pengguna obat merasakan efek tersebut. Hal ini bergantung pada kepekaan pengguna.